Tiga Pilar Yudi Dwi Ardian: Spiritual, Silaturahmi, dan Sedekah
Bukan teori bisnis rumit, melainkan tiga hal sederhana yang ia sebut sebagai pilar: spiritual, silaturahmi, dan sedekah.
Ketika diminta menjelaskan kunci keberhasilannya, Yudi Dwi Ardian tidak menyebut strategi pemasaran atau model bisnis. Ia menyebut tiga pilar: kejarlah spiritual, silaturahmi, dan sedekah, lalu rendah hati dalam menghadapinya.
Pernyataan itu disampaikan pada workshop kewirausahaan ITNY, 16 Oktober 2021. Bagi sebagian orang, ketiganya terdengar jauh dari pembahasan bisnis. Justru di situlah nilai pentingnya: ia menempatkan usaha dalam kerangka nilai, bukan sekadar angka.
Spiritual sebagai penopang
Menjalankan usaha berarti hidup dengan ketidakpastian. Okupansi naik-turun, biaya berubah, dan kompetisi datang tanpa henti. Spiritualitas memberi tempat untuk meletakkan hal-hal yang di luar kendali.
Dalam praktiknya, jejak spiritual ini terlihat pada acara-acara hotel. Yudi memimpin pembacaan doa bersama sebelum pemotongan tumpeng pada perayaan HUT kelima. Doa menjadi penanda bahwa hasil dipandang sebagai sesuatu yang patut disyukuri.
Silaturahmi sebagai jaringan
Pilar kedua berbicara tentang hubungan. Di industri layanan, jaringan bukan hanya soal pemasok atau agen. Ia mencakup karyawan, tamu, komunitas sekitar, dan rekan sesama hotelier.
Yudi hadir dalam kegiatan yang mempertemukan banyak pihak: donor darah bersama PMI, pemeriksaan kesehatan, dan event sepeda di Hutan Tinjomoyo. Kehadiran itu merawat hubungan yang tidak selalu berdampak langsung pada pendapatan, tetapi penting untuk kepercayaan jangka panjang.
Sedekah sebagai keberlanjutan
Pilar ketiga mendorong sebagian hasil usaha kembali ke masyarakat. Bentuknya bisa beragam: kegiatan sosial, dukungan event, atau perhatian pada karyawan.
Pada 2024, Aston Inn Pandanaran menggelar donor darah bersama PMI Kota Semarang. Kegiatan serupa juga berlangsung pada Februari tahun yang sama. Yudi turut berpartisipasi, bukan hanya mengirim perwakilan.
Rendah hati sebagai penutup
Tiga pilar itu ditutup dengan satu sikap: rendah hati. Tanpa kerendahan hati, spiritual bisa menjadi formalitas, silaturahmi bisa menjadi transaksi, dan sedekah bisa menjadi pamer.
Yudi tampil sebagai pembicara di kampus, tetapi tidak banyak membangun citra sebagai “pakar”. Ia lebih sering hadir dalam acara tim daripada tampil sendirian di panggung besar.
Apakah bisa diterapkan?
Ketiga pilar ini tidak membutuhkan modal besar. Siapa pun bisa memulainya:
- Menyisihkan waktu untuk refleksi dan syukur.
- Menjaga komunikasi dengan orang-orang yang bekerja bersama kita.
- Memberi sebagian kecil hasil, tanpa menunggu kaya.
Yang sulit adalah konsistensinya. Di situlah nilai sebuah pilar: ia diuji ketika usaha sedang tidak baik, bukan hanya ketika semuanya berjalan lancar.
Tentu ini bukan resep tunggal. Banyak faktor lain menentukan keberhasilan usaha. Namun bagi Yudi, tiga pilar itu menjadi kompas yang ia sebut sendiri di depan publik.