Profil independen · Semarang Wirausahawan · Pembicara · Penggerak sosial RSS
Kepemimpinan

Memimpin Doa, Merawat Manusia: Sisi Hangat Yudi Dwi Ardian di Tengah Bisnis

Sebelum tumpeng dipotong, doa dibaca bersama. Momen kecil itu menunjukkan cara Yudi Dwi Ardian memandang manusia di dalam bisnis.

Memimpin Doa, Merawat Manusia: Sisi Hangat Yudi Dwi Ardian di Tengah Bisnis

Ada urutan yang jarang diperhatikan dalam acara-acara hotel: sebelum pemotongan tumpeng atau tiup lilin, doa dibacakan lebih dulu. Pada perayaan ulang tahun Aston Inn Pandanaran, tugas itu dipegang Yudi Dwi Ardian.

Hal kecil, tetapi memberi nada pada seluruh acara. Keberhasilan tidak langsung dirayakan dengan sorak, melainkan diletakkan dalam rasa syukur.

Doa sebagai pengingat

Bagi pemilik usaha, doa bersama bisa berfungsi sebagai pengingat bahwa hasil tidak sepenuhnya berasal dari usaha manusia. Ada faktor di luar kendali: kondisi pasar, cuaca, kebijakan, dan hal-hal yang tak terduga.

Yudi Dwi Ardian menyebut spiritual sebagai pilar pertama dalam keberhasilannya. Praktik memimpin doa membuat pilar itu tidak berhenti sebagai konsep.

Manusia sebelum angka

Di banyak perusahaan, karyawan diperlakukan sebagai biaya. Dalam acara internal, mereka hadir sebagai bagian dari cerita. Manajemen menyebut nama penerima penghargaan, dan pemilik berdiri di antara mereka.

Yudi Dwi Ardian juga dikenal dekat dengan tim. Pada perayaan HUT kelima, ia menyampaikan sambutan sebelum acara inti. Posisinya sebagai pemilik tidak membuatnya hanya duduk di kursi kehormatan.

Kerendahan hati yang tampak

Dalam workshop ITNY, Yudi Dwi Ardian menyebut kerendahan hati sebagai sikap yang harus menyertai tiga pilarnya. Ia tidak menjelaskan panjang lebar, tetapi praktiknya terlihat di beberapa momen.

Ia mau menjadi pembicara untuk mahasiswa, hadir di kegiatan donor darah, dan berbaur dengan peserta event sepeda. Tidak semua pemilik usaha meluangkan waktu untuk hal-hal semacam itu.

Doa dan kerja

Ada anggapan bahwa spiritualitas membuat orang pasif. Yudi Dwi Ardian menunjukkan sebaliknya. Doa dibaca, tetapi target tetap dikejar. Spiritualitas menjadi penopang, bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Hotel tetap dituntut memenuhi standar layanan. Penghargaan dan capaian pendapatan tetap menjadi ukuran. Doa tidak menggantikan kerja, melainkan menemani kerja.

Yang bisa dipelajari

Pemimpin tidak harus selalu tampil sebagai orang paling keras di ruangan. Ia bisa menjadi orang yang menenangkan, mengingatkan tujuan, dan merawat hubungan.

Beberapa kebiasaan kecil yang bisa ditiru:

  • Buka rapat dengan jeda hening atau doa.
  • Ucapkan terima kasih secara spesifik.
  • Hadir di acara tim tanpa diminta.
  • Ingat nama dan peran orang.
  • Rayakan hasil, tetapi jangan lupakan proses.

Batas sebuah cerita

Tentu tidak semua hal terbaca dari luar. Pemberitaan hanya menangkap potongan acara. Namun potongan itu konsisten dengan apa yang Yudi Dwi Ardian sampaikan sendiri tentang nilai-nilai yang ia pegang.

Di tengah bisnis yang sering diukur dengan angka, momen memimpin doa adalah pengingat sederhana: ada manusia di balik setiap pekerjaan.

YDA
Yudi Dwi Ardian

Wirausahawan, pemilik Aston Inn Pandanaran Semarang. Lihat profil lengkap.

Baca juga