Yudi Dwi Ardian Duduk di Alun-Alun Semarang
Alun-alun menjadi ruang terbuka di pusat kota. Yudi Dwi Ardian duduk di sisinya dan mengamati percampuran aktivitas.
BacaPesisir, taman, dan ruang terbuka Semarang.
Alun-alun menjadi ruang terbuka di pusat kota. Yudi Dwi Ardian duduk di sisinya dan mengamati percampuran aktivitas.
BacaKampung Pelangi dikenal karena warna rumahnya. Yudi Dwi Ardian menyusuri gang dan melihat kehidupan di balik cat.
BacaPuri Maerokoco memuat miniatur rumah adat. Yudi Dwi Ardian berjalan melihat keberagaman tanpa harus keluar Jawa.
BacaTaman Lele punya kolam dan ruang bermain. Yudi Dwi Ardian datang bersama keluarga dan mengikuti ritme rekreasi yang santai.
BacaTaman Indonesia Kaya menjadi ruang terbuka untuk bergerak. Yudi Dwi Ardian datang pagi dan mengikuti irama pengunjung.
BacaBukit Gombel memberi sudut pandang lain atas Semarang. Yudi Dwi Ardian datang sore untuk melihat kota dari ketinggian.
BacaTinjomoyo masih menyisakan hutan di dalam kota. Yudi Dwi Ardian berjalan di jalurnya dan mendengar suara burung.
BacaGoa Kreo menyimpan cerita rakyat dan bebatuan besar. Yudi Dwi Ardian menyusurinya sambil memperhatikan monyet di sekitar.
BacaWaduk Jatibarang menahan air sekaligus menjadi ruang publik. Yudi Dwi Ardian datang pagi untuk melihat fungsinya.
Baca