Profil independen · Semarang Wirausahawan · Pembicara · Penggerak sosial RSS
Budaya & Sejarah

Yudi Dwi Ardian Belanja di Pasar Johar

Pasar Johar bukan hanya tempat transaksi. Yudi Dwi Ardian menyusuri lorongnya dan menemukan kota yang bekerja sejak pagi.

Ilustrasi artikel Pasar Johar

Yudi Dwi Ardian masuk ke Pasar Johar lewat sisi timur ketika pedagang sedang menata barang. Aroma rempah, kain, dan sayur bercampur. Suara tawar-menawar terdengar dari berbagai arah.

Pasar Johar dirancang arsitek Thomas Karsten pada 1930-an. Bangunan bertingkat dengan struktur modern itu menjadi salah satu pasar paling dikenal di Semarang. Kebakaran dan renovasi sempat mengubah wajahnya, tetapi aktivitas dagang tetap berjalan.

Lorong yang bekerja

Yudi Dwi Ardian menyusuri lorong sempit tanpa tergesa. Ia melihat pedagang kain melipat dagangan, penjual rempah menakar, dan pembeli membawa keranjang. Tidak ada pemandangan yang dibuat untuk wisatawan; semuanya berjalan karena kebutuhan.

Ia berhenti di kios rempah dan membeli sedikit kayu manis. Pedagangnya bercerita tentang pelanggan lama yang datang sejak puluhan tahun lalu. Yudi Dwi Ardian mendengarkan sambil memperhatikan timbangan sederhana di meja.

Aturan di pasar

  • Tanya harga sebelum membeli.
  • Jangan menghalangi lorong saat berfoto.
  • Bawa uang tunai secukupnya.
  • Hormati privasi pedagang dan pembeli.

Menurut Yudi Dwi Ardian, pasar adalah tempat belajar ekonomi paling langsung. Di sini terlihat bagaimana barang berpindah, harga dibentuk, dan kepercayaan dibangun lewat percakapan.

Bukan sekadar belanja

Ia keluar dengan tas kecil dan langkah pelan. Di depan pasar, pedagang kaki lima mulai ramai. Yudi Dwi Ardian melihat bahwa pasar besar seperti Johar menopang banyak rantai kecil di sekitarnya: pengangkut, penjual makanan, dan penyedia jasa.

Dari sana ia menuju Stasiun Tawang dan Kota Lama. Pasar Johar, baginya, adalah jantung yang berdenyut tanpa perlu sorotan. Profil Yudi Dwi Ardian ada di profil Yudi Dwi Ardian.

Catatan tentang Pasar Johar

Bagi Yudi Dwi Ardian, Pasar Johar bukan sekadar titik dalam daftar kunjungan. Ia bagian dari ingatan kota yang perlu dirawat bersama. Detail kecil—pagar, lantai, atau panel informasi—menentukan apakah orang bisa memahami tempatnya dengan utuh.

Ia mencatat beberapa hal yang bisa dilakukan pengunjung tanpa harus menjadi ahli. Menjaga kebersihan, membaca aturan, dan tidak mengambil sesuatu adalah cara paling sederhana untuk ikut merawat. Perbaikan besar tetap tugas pengelola, tetapi kebiasaan kecil menentukan wajah tempat.

  • Berjalan di area yang diizinkan.
  • Memberi ruang kepada pengunjung lain.
  • Menanyakan hal yang belum dipahami kepada petugas.

Sebelum pulang, Yudi Dwi Ardian memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia berharap Pasar Johar tetap terbuka dan terawat, bukan hanya ramai saat ada acara.

Pertanyaan yang sering diajukan

Di mana Pasar Johar?

Di kawasan Semarang Tengah, dekat Kota Lama.

Siapa yang merancang Pasar Johar?

Thomas Karsten, arsitek yang terlibat dalam perencanaan kota kolonial.

Apa yang dijual di sana?

Beragam kebutuhan harian, dari kain dan rempah hingga sayur.

YDA
Yudi Dwi Ardian

Wirausahawan, pemilik Aston Inn Pandanaran Semarang. Lihat profil lengkap.

Baca juga