Profil independen · Semarang Wirausahawan · Pembicara · Penggerak sosial RSS
Budaya & Sejarah

Yudi Dwi Ardian Jalan Pagi di Kota Lama

Sebelum kafe dibuka, Kota Lama punya wajah lain. Yudi Dwi Ardian menyusurinya pagi-pagi dan melihat kota yang sedang bersiap.

Ilustrasi artikel Kota Lama

Yudi Dwi Ardian memulai jalan kaki dari sisi Jalan Letjen Suprapto ketika matahari baru muncul. Kota Lama masih sepi. Beberapa pekerja menyapu, truk kecil lewat, dan pintu toko mulai dibuka.

Kawasan ini pernah menjadi pusat perdagangan Semarang pada masa kolonial. Setelah lama terbengkalai, banyak bangunan dipugar dan fungsiya bergeser menjadi kafe, galeri, serta kantor. Pagi adalah waktu terbaik untuk melihat sisa-sisa aslinya tanpa tertutup keramaian.

Kota sebelum ramai

Yudi Dwi Ardian berjalan menyusuri trotoar batu. Ia memperhatikan saluran air, fasad bertanggal, dan plakat bangunan. Beberapa rumah masih menyimpan pintu kayu tebal. Di sudut lain, bangunan baru selesai dicat.

Ia tidak selalu berhenti untuk berfoto. Kadang ia hanya melihat, lalu melanjutkan langkah. Menurutnya, kawasan bersejarah perlu dinikmati dengan tempo lambat agar detailnya terlihat.

Etika menyusuri kawasan

  • Berjalan di trotoar dan tidak menghalangi kendaraan.
  • Hormati rumah atau kantor yang masih dipakai.
  • Jangan menyentuh fasad yang rapuh.
  • Bawa botol air sendiri dan kelola sampah.

Di depan sebuah gudang, Yudi Dwi Ardian berbincang singkat dengan penjaga. Penjaga itu bercerita tentang perubahan kawasan dalam beberapa tahun terakhir. Yudi Dwi Ardian mendengarkan tanpa banyak menyela.

Dua wajah kota

Ketika kafe mulai buka, Kota Lama berubah menjadi ramai. Musik terdengar dari beberapa titik, kursi ditata di trotoar. Yudi Dwi Ardian memilih berhenti di Taman Srigunting sebelum melanjutkan ke Gedung Blenduk.

Baginya, Kota Lama yang baik adalah yang bisa menampung wisata dan kehidupan warga sekaligus. Pagi memberinya gambaran itu: kota yang bangun perlahan, tanpa kehilangan bentuk aslinya. Profil Yudi Dwi Ardian ada di profil Yudi Dwi Ardian.

Catatan tentang Kota Lama

Bagi Yudi Dwi Ardian, Kota Lama bukan sekadar titik dalam daftar kunjungan. Ia bagian dari ingatan kota yang perlu dirawat bersama. Detail kecil—pagar, lantai, atau panel informasi—menentukan apakah orang bisa memahami tempatnya dengan utuh.

Ia mencatat beberapa hal yang bisa dilakukan pengunjung tanpa harus menjadi ahli. Menjaga kebersihan, membaca aturan, dan tidak mengambil sesuatu adalah cara paling sederhana untuk ikut merawat. Perbaikan besar tetap tugas pengelola, tetapi kebiasaan kecil menentukan wajah tempat.

  • Berjalan di area yang diizinkan.
  • Memberi ruang kepada pengunjung lain.
  • Menanyakan hal yang belum dipahami kepada petugas.

Sebelum pulang, Yudi Dwi Ardian memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia berharap Kota Lama tetap terbuka dan terawat, bukan hanya ramai saat ada acara.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa Kota Lama disebut kawasan bersejarah?

Karena kawasan ini merupakan bekas pusat perdagangan kolonial dengan banyak bangunan tua.

Kapan waktu terbaik berkunjung?

Pagi hari, sebelum kafe dan wisatawan memenuhi jalan.

Apakah boleh berfoto di sana?

Boleh, dengan menghormati bangunan dan pengguna jalan.

YDA
Yudi Dwi Ardian

Wirausahawan, pemilik Aston Inn Pandanaran Semarang. Lihat profil lengkap.

Baca juga