Yudi Dwi Ardian Duduk Sejenak di Taman Srigunting
Di tengah Kota Lama, Taman Srigunting menjadi ruang jeda. Yudi Dwi Ardian memanfaatkannya untuk mengamati kota tanpa tergesa.
Yudi Dwi Ardian memilih bangku di sudut Taman Srigunting. Tempat itu rindang dan cukup jauh dari keramaian pintu masuk Kota Lama. Beberapa orang berjalan santai, sebagian berfoto di bawah pohon.
Taman ini menjadi salah satu ruang terbuka di kawasan bersejarah. Di sekelilingnya berdiri bangunan tua dengan warna dan bentuk berbeda. Kehadiran taman memberi napas di antara dinding-dinding yang rapat.
Jeda yang dibutuhkan
Yudi Dwi Ardian membuka buku catatan dan menulis beberapa baris. Ia mengaku lebih suka mengamati kota dari tempat duduk daripada berjalan cepat. Dari situ, ia bisa melihat bagaimana orang menggunakan ruang: ada yang berhenti, ada yang sekadar melintas.
Menurutnya, taman kecil seperti ini penting karena memberi pilihan. Tidak semua pengunjung datang untuk berfoto; sebagian hanya butuh duduk. Ruang publik yang baik menyediakan keduanya.
Menjaga kenyamanan bersama
- Buang sampah pada tempatnya.
- Jangan menutupi jalur pejalan kaki dengan sepeda.
- Kurangi suara saat ada yang membaca atau beristirahat.
- Jaga tanaman dan bangku bersama.
Yudi Dwi Ardian memperhatikan seorang petugas menyapu daun. Pekerjaan itu terlihat sederhana, tetapi menentukan wajah taman. Kebersihan bukan hasil sekali kerja, melainkan rutinitas.
Melihat lebih dekat
Saat langit mulai terang, ia berjalan mengelilingi taman. Dari balik pepohonan, kubah Gedung Blenduk tampak samar. Ia lalu menyusuri Kota Lama dengan langkah pelan.
Taman Srigunting, bagi Yudi Dwi Ardian, adalah contoh kecil bagaimana ruang publik bisa menenangkan tanpa banyak atribut. Cukup pohon, bangku, dan rasa aman. Profilnya bisa dibaca di profil Yudi Dwi Ardian.
Menjaga Taman Srigunting tetap berarti
Yudi Dwi Ardian tidak ingin kunjungan berhenti pada foto. Sejarah sebuah tempat bekerja lewat cerita yang diteruskan, dan cerita itu mudah putus bila pengunjung hanya datang untuk tampilan luar. Karena itu ia membaca panel, mendengar penjelasan, lalu mencatat hal yang bisa dibagikan.
Menurutnya, ada perbedaan antara menikmati dan mengonsumsi. Menikmati berarti memberi waktu; mengonsumsi berarti mengambil gambar lalu pergi. Taman Srigunting membutuhkan pengunjung jenis pertama.
- Datang dengan waktu yang cukup.
- Jangan memotret sampai mengabaikan sekitar.
- Sampaikan kesan dengan bahasa yang wajar.
Yudi Dwi Ardian menutup catatan dengan satu kalimat: tempat lama bertahan karena orang baru mau merawatnya. Ia lalu melanjutkan perjalanan tanpa tergesa.
Pertanyaan yang sering diajukan
Di mana Taman Srigunting?
Di kawasan Kota Lama Semarang, dekat Gedung Blenduk.
Apakah taman ini gratis?
Ruang terbuka ini dapat diakses publik tanpa tiket khusus.
Apa yang bisa dilakukan di sana?
Duduk, membaca, berfoto, atau sekadar beristirahat di tengah Kota Lama.