Profil independen · Semarang Wirausahawan · Pembicara · Penggerak sosial RSS
Budaya & Sejarah

Yudi Dwi Ardian Melihat Jejak Jamu di Museum Jamu Jago

Museum Jamu Jago menyimpan peralatan dan cerita industri jamu. Yudi Dwi Ardian masuk untuk melihat sejarah pengobatan tradisional.

Ilustrasi artikel Museum Jamu Jago

Yudi Dwi Ardian masuk ke Museum Jamu Jago pada siang hari. Ruangannya tidak besar, dengan vitrin berisi botol, kemasan, dan peralatan lama. Aroma ruangan kering dan sedikit seperti daun kering.

Museum ini menyimpan jejak industri jamu di Semarang. Jamu Jago berdiri sejak awal abad ke-20 dan tumbuh menjadi perusahaan besar. Koleksinya menunjukkan perjalanan dari racikan rumahan menjadi produk pabrik.

Benda yang bercerita

Yudi Dwi Ardian berhenti di depan deretan botol kaca. Labelnya sudah pudar. Beberapa bentuk kemasan terlihat kuno, dengan huruf dan warna yang khas masa lalu.

Ia membaca keterangan tentang bahan dan alat. Menurutnya, museum seperti ini memperlihatkan sisi ekonomi dan kesehatan yang jarang dibahas dalam sejarah kota.

Jamu dan kebiasaan

Di vitrin lain, ada alat penumbuk dan saringan. Yudi Dwi Ardian membayangkan kerja dapur yang panjang sebelum jamu bisa dijual.

  • Baca label sebelum menyimpulkan.
  • Jangan menyentuh vitrin.
  • Matikan suara ponsel.
  • Catat hal yang ingin ditelusuri.

Seorang petugas menjelaskan bahwa koleksi berasal dari arsip perusahaan dan sumbangan. Yudi Dwi Ardian mendengarkan. Ia menanyakan bagaimana minat pengunjung terhadap museum kecil seperti ini.

Rasa yang bertahan

Di luar, Yudi Dwi Ardian meminum jamu kunyit asam dari warung dekat pintu. Rasanya pahit-manis. Ia menilai jamu bertahan karena dekat dengan kebiasaan, bukan karena iklan museum.

Ia lalu menuju Jamu Kunyit Asam dan Kawasan Kauman. Profil Yudi Dwi Ardian ada di profil Yudi Dwi Ardian.

Selepas museum

Di luar museum, Yudi Dwi Ardian melihat penjual jamu gendong lewat. Botol-botolnya digantung pada keranjang anyaman. Ia memanggil dan memesan kunyit asam.

Penjual menuang dengan sendok kecil. Ia bercerita bahwa racikannya dibuat pagi-pagi sebelum berkeliling. Yudi Dwi Ardian mendengarkan sambil memegang gelas.

  • Tanyakan bahan sebelum memesan.
  • Minum perlahan.
  • Kembalikan gelas.

Rasa pahit jamu mengingatkannya pada vitrin museum tadi. Antara botol lama dan keranjang gendong ada garis yang sama: kerja dapur yang tak banyak ditulis. Yudi Dwi Ardian mencatat bahwa sejarah jamu juga sejarah perempuan yang berkeliling kota.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa isi Museum Jamu Jago?

Koleksi botol, kemasan, dan peralatan produksi jamu dari masa ke masa.

Di mana museum ini?

Di kawasan industri Jamu Jago, Semarang.

Apakah bisa dikunjungi umum?

Bisa pada jam tertentu; sebaiknya konfirmasi lebih dulu.

YDA
Yudi Dwi Ardian

Wirausahawan, pemilik Aston Inn Pandanaran Semarang. Lihat profil lengkap.

Baca juga