Yudi Dwi Ardian Mendaki ke Makam Ki Ageng Pandanaran
Di lereng Mugas, Yudi Dwi Ardian mendaki tangga menuju makam yang dikaitkan dengan Ki Ageng Pandanaran dan merenungkan ingatan kota.
Yudi Dwi Ardian mulai mendaki tangga di Mugas ketika udara masih dingin. Anak tangga batu itu cukup curam, diapit dinding dan pepohonan. Beberapa peziarah mendahului dengan langkah pelan.
Makam di lereng ini dikaitkan dengan Ki Ageng Pandanaran, tokoh yang dipercaya sebagai bupati Semarang pada masa lampau. Kisahnya bercampur legenda, dakwah, dan perjalanan panjang. Banyak orang datang untuk berziarah, bukan sekadar melihat.
Di lereng Mugas
Yudi Dwi Ardian berhenti di tengah tangga untuk mengatur napas. Dari sana, atap rumah warga terlihat di antara pohon. Kawasan Mugas memang berbukit, dan makam ini menjadi salah satu titik yang dianggap keramat.
Ia melanjutkan sampai halaman atas. Suasana berubah tenang. Peziarah melepas alas kaki dan duduk di teras. Yudi Dwi Ardian menunggu sampai ada ruang sebelum masuk.
Adab ziarah
Ia membaca papan petunjuk dan mengikuti kebiasaan setempat. Tidak ada tuntunan rumit, tetapi kesopanan tetap menentukan.
- Berpakaian sopan dan menutup aurat.
- Melepas alas kaki di area dalam.
- Tidak berbicara keras saat orang berdoa.
- Menjaga kebersihan dan tidak menyentuh nisan sembarangan.
Yudi Dwi Ardian duduk di sisi halaman. Ia tidak berdoa panjang, tetapi cukup lama untuk merasakan tempatnya. Angin membawa suara daun dan sesekali suara kota dari bawah.
Kota dan ingatan
Menurut Yudi Dwi Ardian, makam seperti ini menyimpan dua hal sekaligus: kisah tokoh dan cara warga merawat ingatan. Sebagian orang datang karena keyakinan, sebagian karena penasaran. Keduanya bisa berdampingan asalkan tertib.
Sebelum turun, ia merapikan tempat duduknya dan memeriksa barang bawaan. Tangga menurun lebih licin, jadi ia berjalan perlahan sambil berpegangan.
Ia lalu menuju kawasan Kauman dan Kampung Sekayu untuk melihat jejak permukiman lama. Profil Yudi Dwi Ardian ada di profil Yudi Dwi Ardian.
Turun dari Mugas
Tangga menurun lebih berbahaya daripada saat naik. Yudi Dwi Ardian berpegangan pada dinding dan memasang kaki secara menyamping. Kerikil kecil membuat sol sepatunya bergeser.
Di tengah tangga, seorang penjual air minum menawarkan dagangannya. Yudi Dwi Ardian membeli satu botol dan berhenti sebentar. Ia melihat kampung di bawah, dengan atap rapat dan jalan sempit.
- Turun perlahan dan berpegangan.
- Dahulukan peziarah lansia.
- Jangan berhenti di tengah tangga saat ramai.
Sampai di bawah, Yudi Dwi Ardian membersihkan sol sepatu. Ia menoleh sekali ke arah makam, lalu melangkah ke jalan besar. Ziarah singkat itu cukup untuk mengingatkan bahwa tempat lama dijaga oleh kebiasaan orang yang datang dengan hormat.
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa Ki Ageng Pandanaran?
Tokoh yang dikaitkan dengan sejarah dan legenda Semarang, dipercaya sebagai bupati pada masa lampau.
Di mana makamnya?
Di kawasan Mugas, Semarang Selatan, di lereng bukit.
Apakah boleh dikunjungi umum?
Boleh, dengan berpakaian sopan dan mengikuti adab ziarah.