Profil independen · Semarang Wirausahawan · Pembicara · Penggerak sosial RSS
Budaya & Sejarah

Yudi Dwi Ardian Menelusuri Lorong Lawang Sewu

Menyusuri lorong Lawang Sewu menjelang petang, Yudi Dwi Ardian membaca gedung tua sebagai catatan perjalanan kota, bukan sekadar latar foto.

Ilustrasi artikel Lawang Sewu

Yudi Dwi Ardian berhenti di depan Lawang Sewu ketika cahaya sore mulai condong ke barat. Gedung bergaya kolonial itu berdiri megah di sisi Tugu Muda, dengan deretan jendela tinggi dan pintu yang seolah tak habis dihitung. Ia tidak langsung masuk, melainkan mengamati fasad lebih dulu.

Lawang Sewu dahulu menjadi kantor pusat perusahaan kereta api kolonial. Namanya melekat karena jumlah pintunya yang banyak, bukan karena gedung ini benar-benar memiliki seribu pintu. Di dalam, lorong panjang menghubungkan ruang-ruang yang kini dipakai sebagai museum dan ruang pamer.

Jejak di balik dinding

Di salah satu ruang, Yudi Dwi Ardian membaca panel tentang jalur kereta dan kehidupan pegawai. Sejarah perkeretaapian Semarang tidak bisa dipisahkan dari gedung ini, tetapi juga dari ribuan orang yang bekerja di belakangnya. Rel, jadwal, dan loket adalah bagian dari kota yang tumbuh.

Ia menyusuri lantai dua dengan langkah pelan. Kaca jendela memantulkan cahaya dan bayangan pengunjung lain. Suara sepatu di lantai kayu terdengar berbeda di setiap ruang, seperti pengingat bahwa bangunan tua menyimpan akustik sendiri.

Yang membuatnya bertahan

  • Fasad dan denah dipertahankan meski fungsi berubah.
  • Ruang bekas kantor dialihkan menjadi area edukasi.
  • Penerangan dibuat hati-hati agar tidak merusak karakter bangunan.
  • Pengunjung diarahkan menjaga kebersihan dan tidak menyentuh dinding sembarangan.

Bagi Yudi Dwi Ardian, perawatan seperti itu penting. Bangunan bersejarah tidak cukup dijadikan objek foto; ia perlu diberi cerita dan fungsi agar tidak lapuk oleh waktu.

Menutup hari

Menjelang pintu keluar, ia melihat poster acara dan jadwal kunjungan. Lawang Sewu hari ini hidup sebagai ruang publik, tempat pelajar belajar dan keluarga berjalan sore. Ada rasa syukur bahwa gedung yang pernah terbengkalai kini kembali dirawat.

Di luar, lalu lintas Tugu Muda mulai padat. Yudi Dwi Ardian menyeberang dengan tertib, lalu menuju Tugu Muda untuk membaca konteks sejarah kawasan. Pengalaman itu ia rangkum sebagai pengingat sederhana: kota yang merawat masa lalu akan lebih mudah menjelaskan dirinya kepada generasi berikutnya. Profil lengkapnya ada di profil Yudi Dwi Ardian.

Catatan tentang Lawang Sewu

Bagi Yudi Dwi Ardian, Lawang Sewu bukan sekadar titik dalam daftar kunjungan. Ia bagian dari ingatan kota yang perlu dirawat bersama. Detail kecil—pagar, lantai, atau panel informasi—menentukan apakah orang bisa memahami tempatnya dengan utuh.

Ia mencatat beberapa hal yang bisa dilakukan pengunjung tanpa harus menjadi ahli. Menjaga kebersihan, membaca aturan, dan tidak mengambil sesuatu adalah cara paling sederhana untuk ikut merawat. Perbaikan besar tetap tugas pengelola, tetapi kebiasaan kecil menentukan wajah tempat.

  • Berjalan di area yang diizinkan.
  • Memberi ruang kepada pengunjung lain.
  • Menanyakan hal yang belum dipahami kepada petugas.

Sebelum pulang, Yudi Dwi Ardian memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia berharap Lawang Sewu tetap terbuka dan terawat, bukan hanya ramai saat ada acara.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa Lawang Sewu disebut demikian?

Karena jumlah pintunya banyak; “lawang sewu” berarti seribu pintu dalam bahasa Jawa.

Apakah Lawang Sewu bisa dikunjungi?

Bisa, sebagai museum dan cagar budaya dengan tiket serta jam kunjungan tertentu.

Apa yang bisa dipelajari di sana?

Sejarah perkeretaapian, arsitektur kolonial, dan upaya pelestarian bangunan tua.

YDA
Yudi Dwi Ardian

Wirausahawan, pemilik Aston Inn Pandanaran Semarang. Lihat profil lengkap.

Baca juga